Cinta bisa berarti kesedihan
maka
daripada terus menanggung malu karenanya
lebih baik
bangkit dan mengutarakannya.
THIS MY OWN PERSONAL POETRY WHEN I INSPIRED BY LOVE YOU MAY COPY IT BUT PLEASE RESPECT MY RIGHTS.. THANK YOU
Cinta bisa berarti kesedihan
maka
daripada terus menanggung malu karenanya
lebih baik
bangkit dan mengutarakannya.
Viii
Semuanya berawal dari sini, tidak pernah aku sedekat ini dengan kenyataan, walaupun harus ku bayar dengan rasa kecewa yang besar dan begitu banyak penyesalan. Dihadapanku ia menghancurkan seluruh harapan yang susah payah aku bangun
Sebenarnya aku sendiri membangun tembok pemisah, telah ku langkahi dan ku hancurkan itu, tetapi aku temui tembok lebih besar, dia sendiri kini yang membangunnya.
Dia sendiri yang membangun pemisah itu, melebihi kemampuanku, hanya utuk mengatasi tinggi dirinya, dia kembali menjadi yang ku benci.
Tak bisa ku tunggu lagi, aku pergi, ku tutup lembar dirimu, akan ku penuhi janjiku karena aku tahu tak mungkin kau penuhi janjimu menantiku.
Sekarang ku penuhi janjiku, “ aku tetap benci kamu.”
Vii
Semuanya berawal dari sini, aku mencintainya apapun dirinya, tak perduli betapa banyak waktu membentuk gambaran petik raut wajahnya, mengangkat sepi diantara hari, aku bosan, untuk maju aku tak punya harapan.
Aku tidak tahu berap banyak waktu untuk memikirkan dan bertidak melaksanakan segala keinginan, begitu cepat aku terjatuh dalam asmara gelap, sakit sekali jatuh sendiri, tidak ada yang membantu memapahku di bahu kiriku, memelukku dariku sudut igaku.
Aku harus sadar dan bidadari hanya betah bermain di khayangan diantara taman – taman indah dan selalu ceria tak pernah sekali juga merana.
“engkau diri cantik yang tak bisa terputus dari sedikitpun bahagia. Saat langit membiru, kaulah mentari yang menerangi. Aku ingin melihat bintang jatuh, untukku itu penggati dirimu indah dan hanya sementara singgah di pengelihatanku.”
“aku waktu yang menemanimu, aku indah yang bisa menemanimu, kenangan yang menggaris di torehan ingatanmu, aku mimpi yang bisa kau ajak menyatu.”
Tetapi, semuanya puisi, aku hancur dalam diriku, tak bisa kukatakan aku punya hati, bisakah kuminta nafasku yang dulu kepada Sang Pencipta, aku ingin kembali walau untuk mengenalnya, adai aku bisa, akan ku buat Semuanya Berawal Dari Sini.
Adai aku mampu, namun hidup tak selamanya mudah, banyak derita dan cobaan yang akan ku lalui, itu akan membuatku tegar, menjadi kuat berdiri, menopang redup duniaku.
Kau tak pernah ingin ku genggam erat jearimu
Kau tak pernah ingin ku dekap dekat pundakmu
Kau juga tak pernah mengijinkanku mengisi senggangmu denganku
Tapi ku tak pernah ignin melepas pandanganku dari matamu
Dana aku tak pernah ingin menjadi orang bodoh yang kehilanganmua
Suatu saat aku akan hadir disebelah tanganmu
Membawamu jauh ke dalam bahagiaku
Dan disana kau bebas tertawa, semaumu, semuanya
Sampai kau mampu beruah
Aku menanti dan mencari dirimu yag dulu.
Untuk selanjutnya
Aku tetap benci kamu.
Semuanya tak terbayar lewat masa depan
Yang akan berjalan
Tinggal kenangan hal ini jadinya
Sedikit perjumpaan lebih baik
Daripada cibiran dan selamat tinggal
Cobalah jujur bahwa kau berubah tak ku suka
Kau selalu angkuh dalam langkah
Selalu angkuh ketika kau berdiri
Mencoba meraih gelar yang tak kau perlu
Hanya agar semua memperhatikanmu
Sebagai sosok berkharisma
Dan patutu dicintai
Tetapi aku kesal
Aku suka kau pendiam
Agar bisa ku manja
Dengan keterbatasanku
Kau terima
Vi
Semuanya berawal dari sini, menata kembali haru mengganti tirai – tirai kusam wajahku, tidak nampak lagi bagiku gumpalan kekesalan dan merah pitamku, sesaat dirinya mempesonaku, aku rindu.
Untuk segala nilai yang dia tampakkan, aku beri penghargaan yang terdalam dengan seluruh pernyataan dia terindah seperti nafas dunia yang tak tampak di kasat mata.
Kali ini, aku tak mau ragu lagi walau waktu selalu sedikit merayu,
“ tinggalkan keseharaianmu, aku menyertaimu dengan hal baru.”, tetapi kupikir semua itu hanya sayu.
Kulihat lagi mataya menatap sungkan di pinggiran sudut kayu, dia membuang muka atau malu, memang aku tidak pantas aginya, aku peras dunia untuk diriku tetapi dia basahi kering duniaku dahulu.
“untuk namamu aku memohon, miliki aku apa adanya, meski aku pahit, aku akan selalu berusaha manis untukmu.”
Semuanya tak terbayang, tak terayang untukku, semuanya. Aku mengharap anugerah bahwa segala perasaan yang aku puji terhadapnya adalah benar selalu, suatu hari aku tunjukkan nilai dirinya bagi hidupku, begitu berarti.
Meski malam telah larut aku ingin tetap memandanginya dari bayanganku sediri, tidak ku tahu meski sedih sendiri, menunggu dan menanti, mengharap dirinya berada di sini.
V
Ternyata langit selalu kelabu membawa ungu hanya dari kata – kata kaku. Aku tidak tahu mengapa awan selalu saling beradu agar halilintar menyatu dan air berpadu dalam rintik hujan yang merdu.
Walaupun jauh nafasku dengannya, berbatas bilangan yang tak berbilang, berujung hentakan hati yang gelisah, meminta dunia menampik kehidupan.
Aku atau dia yang kasar, melantunkan klausa dengan nada – nada besar, sumbang terdengar dan tak enak dikenang.
Aku tahu rasanya dicintai orang yang tak ku cintai, aku tahu bagaimana rasanya membagi hati dengan pengingkaran, menjauhi mimpi meratapi ambisi yang kian tak terkendali.
Tatapan orang – orang curiga lebih buruk daripada hardikan penguasa, penipu selalu meminta tanpa ingin berusaha, esok aku akan coba jujur mengatakan cinta yang untukku selalu berarti nestapa.
“ bagaimana hatimu bila yang kau harapkan mengecewakan ?”
Aku tidak tahu selain sesak dan kesal, aku mau marah dan menghantam apa yang menghadang.
Hari ini saat aku berkata, “sebentar, aku kecewa !”.
Jika cahaya bisa menyalakan mimpi makhluk yang terlelao, pasti dunia sudah terang dengan manusia – manusia penuh tawa.
Tetapi selalu semuanya terpendar menjadi beba, bubar, buyar, hambar menjadi semua tanda tanya, tak pasti.
Iv
Optimisku hilang karena waktu tidak lagi memberi kesempatan kepadaku menatapnya dan kesempatan untukku berbuat sombong padanya, untuk segala perasaan yang aku miliki aku tidak berharap bulan jatuh kepangkuanku, meski hanya sinarnya, aku tetap bahagia, karena rinduku akan selalu ada.
Aku ingat perkataan seorang pujangga dalam lembar yang pernah ku baca
“dialah terakhir kuucap sebelum aku terlelap, dialah juga pertama ku sebut setelah aku terjaga.”
Sungguh indah, teramat indah.
Dan bilamana tiada lagi bisa aku menatapnya, biarlah aku menyatukan kehendak dengannya, membiarkan dia bebas bersinar untuk siapapun tanpa harus bingung atau malu, sehingga aku pun tidak kesal menatap indah bayangnya di tepi telaga ditemani sepi dan gelap malam sendiri.
III
Semuanya berawal dari sini, aku selalu jalani lagi hari – hari melanjutkan keinginan, mewujudkan mimpi yang sempat tertunda, aku mulai hari ini mewarnai pikiran dengan hitam, warna yang aku suka dan juga berarti aku bingung harus memulai dari mana.
Sebentar aku terdiam memikirkan bagaimana nanti, apa yang harus aku jalani, bayangan sang rembulan hadir dan mulai mempengaruhi saraf bahagiaku, tak apa, aku hanya sedikit tempat untukku, tetapi aku malu, aku seorang laki – laki dan aku lebih daripada dia.
Tiba – tiba saja dia dihadapanku berjalan beriring, tetapi sekali lagi aku segan menatap atau menyapa,
Aku mendahuluinya, ia menatapku sejenak, namun sebentar aku seudah berada di depannya, aku tak tahu lagi, kurasa ia hanya menunduk, ternyata aku gagal menyentuh hatinya.
Terkadang aku berpikir untuk menjadi anak sombong, introvert dihadapannya, biar dia melihatku dan berpikir tentangku kemudian aku bisa menaruh sedikit pengharapan di celah tanda tanyanya.
Dahulu seorang pernah berkata agar aku tidak menunda – nunda waktu melakukan pekerjaan, itu juga yang sering aku laksanakan, tetapi sekarang, sejak aku lihat tatapan matanya dihadapanku dan senyum indahnya yang malu – malu, aku tersipu, aku heran mengapa ingatanku selalu pada rembulanku. Untuk hatiku aku akan memenuhi diriku seagai ciptaan yang diiringi kausalitas cinta. Biar aku hidup dalam lamunanku untuk saat ini, biar puas segala rasa, hingga sampai waktuku untuk sadar, aku juga puas menangisi apa yang aku dapatkan.
II
Semuanya berawal dari sini, gelap malam sering membuatku takut karena aku sendiri, bintang hanya gantungan cahaya dalam hitam dan angin hanya tiupan pembawa dingin. Semakin lama semakin sulit menghadapi hidup sendiri.
Kalau hanya sendiri tanpa harapan aku sudah terbiasa, tetapi gelap, larut, diam. Aku malu untuk berharap apapun, siapapun.
I
Semuanya berawal dari sini, sudut pandangnya membuatku memikirkan tujuan dia diciptakan. Walaupun aku tidak mengerti apa yang ada di hati dan pikirannya, hanya saja, saat itu aku mau ia memandangku, suatu hal yang tidak mungkin terjadi, menurutku.
Sebuah ketidaksengajaan rupanaya membangun jembatan bagiku ke matanya, saat tangannya di tanganku dan terwujud keinginanku menyebutkan nama ini.
Tapi pengaruhnya yang mulai menguasaiku membuat mataku malu menatapnya lama, walau ia bersedia, entah malu atau terpaksa.
Senyumnya indah lebih dari yang ku kira, mungkin akan terjadi untuk kedua kalinya, nanti. Aku menunggunya.
Sebuah ketidaksengajaan lain membawaku dekat padanya, kami berhadapan dibatasi meja bujur sangkar bersama teman – teman yang membuat ketidaksengajaan ini semakin lancar. Ketidaksengajaan ini yang sebenarnya aku harapkan dari tadi, aku tunggu biar semakin bahagia hati ini, aku seperti tidak perduli malu lagi. Tetapi tetap saja tidak mampu ku tatap wajahnya karena semuanya akan tertawa dan pasti malu akan tiba.
Matanya kembali berkaca, aku segan menatapnya, walau ingin sekali kupandangi indahnya, sampai aku tertidur dan kemudian bermimpi meraih hatinya dan tanpa malu menaruhnya sebagai belaian jiwa.
Tanpa dirinya hati ini sunyi, masalah yang aku hadapi semakin menyentuh rasa kesal, aku menangis di atas sajadah hijau yang selalu bersamaku sejak kecil, untuk mengemis kepada sang pencipta agar dia mengangkatku dan aku bisa memandang segala masalah ini sebagai hal yang tidak berarti daripada cintanya padaku.
Aku ingin semuanya kembali, asalkan aku tidak kembali kepada mimpi yang selalu membuatku malas bermain dalam kenyataan yang dewasa dan bisa diterima.
Ternyata rindu seperti air besar yang terhalang, semakin besar terhalang, memaksa keluar dan berusaha memenuhi takdirnya. Seperti juga aku, akulah air itu, memaksa melepaskan kenyataan agar hatiku tidak terus mengembang menahan rindu.
Hanya untuk dirinya aku merasa seperti ini, tidak sakit namun menyiksa, membuat pikiranku bersendawa karena semuanya beban yang hampa. Mulai nanti aku akan terus berkaca dalam jiwa seperti matanya yang malu – malu menatap.
Tiada perasaan lain kecuali keingintahuaan tentang dirinya yang menjadi satu dalam binar wajah rembulan yang berbayang di sela wajahnya. Indah cahayanya yang jatuh, menerangi sepi – sepi, kalaupun ia tetutup kabut, aku pasti menanti karena segala sesuatu akan terlihat sebagaimana adanya.
Bulanku tidak akan sombong karena aku tahu walaupun ia tinggi, ia selalu membagi indahnya dibayangan telaga, dimana aku sering terdiam sampai sepi berganti atau bercanda dengan cahayanya sendiri.
Semata hanya kepada sang maha pencipta semuanya akan kembali, tiada daya upaya kecuali darinya yang telah memberikan semua yang terbaik kepada hambanya
“sang maha pencipta”
Kepada dia yang telah menaruh kegembiraan kepada manusia yang mengharapkan cintanya,
Memberi pengetahuan tentang kesengsaraan jika seseorang menampikkan kecintaannya yang abadi.
Kepada kekasihnya yang ia jadikan kecintaan di seluruh alam sebagai contoh bagi makhluknya yang begitu besar kecintaannya pada ummatnya,
Kepada hamba yang mengajarkan pengajaran dari sang maha pencipta kepada seluruh ummat di akhir peradaban yang akan sesaat lamanya.
Kepada yang telah mengisi hati ini walau mungkin hanya untuk sesaat, hanya membayang menjandikan aku buih dalam riak percikan gelombangnya.
Untuk seseorang yang belum bisa ku terka dimana ia melempar segala suka dan hanya bisa kupastikan padanya diriku bukan siapa – siapa, bukan juga orang patut dibanggakan karena aku tak punya apa – apa.
Meski banyak ku tahu kisah lamanya
Bersama orang lain yang mungkin juga mencintainya.
Aku tak perduli
Karena sejak saat itu dialah mutiaraku
Tak perduli betapa nista orang lain menganggapnya
Atas apa yang ia lakukan dahulu
Tak perduli betapa lacur kisah lampau yang pernah membalut kisah di setiap harinya secara sengaja atau tidak bersama dengan yang lain saat dulu.
Bukan semua itu yang ku perlu
Lagipula ,mutiara tetaplah mutiara
Tak akan jatuh nilainya
Walau diambil dari tumpukan sampah
Mulai detik itu yang kubutuh setianya
Mungkinkah ia setia menanti ?
Karena penantiannya bukanlah penantian seorang hawa
Cukup penantian seorang biasa.